Masalah Produk Share In Jar


by Glow Necessities
Masalah Produk Share In Jar

Produk share in jar memang alternatif yang menarik untuk para penggemar skincare yang ingin mencoba produk tanpa harus membeli produk kemasan penuhnya (full-size) dari segi biaya, akan tetapi apakah praktik pengemasan ulang ini memprioritaskan kesehatan kulit kita dibanding profit pada bisnisnya?

RISIKO KONTAMINASI

Untuk produk kosmetik atau skincare di Indonesia mendapatkan Izin Edar di Indonesia maka berarti harus lolos sesuai ketentuan dan uji stabilitas formula kosmetik yang dilakukan pada kemasan asli utuhnya jika mengacu pada regulasi yang ada tentang Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik, dan Cemaran Dalam Kosmetika. Dengan melihat hal ini, sudah jelas bahwa produk share in jar tidak mematuhi dikarenakan proses pengemasan ulang ini sudah merupakan bentuk produksi kosmetik dikarenakan perbedaan material kemasan produk yang digunakan saat pengujian stabilitas pengawet atau cemaran mikroba pada kemasan asli produsen.

Walaupun isi dari share in jar ini adalah produk yang sudah memiliki Izin Edar (pada kemasan aslinya), saat dilakukan proses pemindahan isi produk dari kemasan aslinya akan terpapar udara luar sehingga risiko terkontaminasi pathogen atau microba lain juga pasti ada pada lingkungan yang berbeda dengan lingkungan di manufaktur produsen yang sudah bersertifikat dan terkontrol kesterilannya.

Selain itu jika formula produk aslinya mengandung bahan aktif (seperti retinol, vitamin C, BHA, AHA, atau berbagai antioksidan yang sensitif terhadap cahaya dan oksidasi), pemakaian produk dalam kemasan share in jar tidak dapat menjamin bahan aktifnya masih efektif atau belum terurai layaknya formula pada kemasan aslinya akibat isu stabilitas tidak teruji.

PENTINGNYA KEMASAN KEDAP UDARA DAN CAHAYA

Kosmetika yang diproduksi manufaktur sudah terjamin menggunakan sistem pengawet memadai (tergantung sediaannya: semakin banyak komponen air atau bahan water-soluble, kebutuhan pengawet yang efektif semakin penting) yang sesuai untuk kemasan jar dalam mencegah kontaminasi microbiota.

Namun dalam hal untuk kestabilan formula produk skincare yang diformulasikan dengan bahan-bahan yang bermanfaat menutrisi kulit (seperti antioxidant atau bio-actives), kemasan jar yang membiarkan formulanya terpapar udara semakin mengurangi keefektifannya saat digunakan atau bahkan terurai semakin lama dibuka-tutup.

Layaknya sudah jatuh tertimpa tangga, kemasan jar yang transparan atau bening juga semakin mengganggu kestabilan bahan-bahan yang bermanfaat yang sensitif terhadap cahaya pada formula produknya.

Selain berbagai kompromi di atas, kecuali kita memang benar-benar seksama untuk mensterilkan jari atau spatula atau applicator "spesial" yang disediakan untuk mengambil (mencepuk) isi produk kemasan jar ini, kondisi ini tidak praktis untuk sehari-harinya dalam menjamin higienitas produknya tidak tercemar bakteri, pathogen atau material lain setiap kemasannya dibuka-tutup dan jari kita / spatula dicelupkan. Terlebih lagi, behavior setiap individu yang berubah-ubah dalam mencuci tangan dengan konsisten atau tidak juga sulit untuk diukur dengan metode studi yang ada dan tidak dapat menjamin jari yang sudah dicuci pun bebas dari kontaminasi mikroba. 

Walaupun kemasan jar memberi kesan seolah-olah "praktis" untuk mempermudah menghabiskan isi produk saat tersisa sedikit, namun dalam jangka panjang: dengan memakai produk kemasan jar (baik yang share in jar maupun kemasan utuh) malah menghambat kita untuk merawat kulit semaksimal mungkin yang sesungguhnya dapat dilakukan jika bahan-bahan pentingnya masih efektif pada kemasan yang lebih meminimalisir paparan udara dan cahaya.

REFERENCES:

  • Applied and Environmental Microbiology, May 1990, Vol 56 Issue 6, Pages 1476-1479
  • AMB Express, April 2020, Vol. 10, Page 81 (open access)
  • Scientific Reports, April 2020, Vol. 10, Page 7587 (open access)
  • Letters in Applied Microbiology, Sep 2006, Vol. 43 Issue 3, Pages 301-306
  • Journal of Applied Microbiology, Feb 2020, Vol. 128 (Issue 2), Pages 598-605
  • Cosmetics, 2016, Vol 3 Issue 3, Page 32 (open access)
  • International Journal of Environmental Research and Public Health, January 2011, Vol.8 Issue 1, Pages 97-104
  • Tropical Medicine & International Health, Feb 2008, Vol. 13 Issue 2, Pages: 278-285