Bahan-Bahan Penjaga Integritas Kulit—Sebuah Analogi


by Glow Necessities
Bahan-Bahan Penjaga Integritas Kulit—Sebuah Analogi

Seringkali kami mendapat pertanyaan seperti: “Apakah bahan A ini bagus untuk tipe kulit X?” atau "Bahan Z ini se-ajaib yang diiklankan itu?”. Terlepas dari pihak mana yang menyatakan bagaimana definisi 'bagus' ini, dengan analogi membentuk skincare routine layaknya dalam dunia kerja berikut ini, mungkin dapat membantu Anda menavigasi manfaat berbagai bahan aktif yang biasa ditemukan di produk skincare dan mana yang setidaknya do something untuk melawan aging & paparan lingkungan (exposome factors) kulit.

SEBELUM MEMULAI BISNIS

Penting untuk diketahui bahwa dengan memulai usaha selalu ada risiko usaha yang dapat menyebabkan kerugian, di mana risiko ini secara garis besar memiliki dua jenis karakteristik:

  • Risiko bawaan (inherent risk) yaitu risiko yang bersifat ‘unik’ tergantung jenis industri usahanya. Contoh: jika usaha kuliner maka risiko bawaannya adalah persediaan bahan makanan yang dapat membusuk jika tidak laku; jika usaha dalam industri keuangan, maka risiko bawaan adalah piutang nasabah yang tidak dapat dilunasi.
  • Risiko yang dapat dihindari (avoidable risk): risiko kerugian yang dapat terjadi di luar kegiatan usaha, contohnya: kerugian akibat fraud atau korupsi dari karyawan, pencurian, dsb. Adapun risiko-risiko ini adalah risiko uang dapat dihindari atau dikendalikan jika perusahaan memiliki SOP (standard operating procedure) atau pengendalian internal yang baik.

Dengan analogi di atas, anggap reaksi alergi di kulit layaknya inherent risk dikarenakan alergi memang bersifat random atau unik bagi setiap individu dari faktor genetik, usia atau kondisi sistem imun yang bervariasi.

Sedangkan reaksi iritasi, photodamage dan inflamasi akibat bahan irritant atau bahan yang tidak dibutuhkan oleh kulit anggap seperti avoidable risk di atas yang kita sebagai konsumen dapat hindari saat memilih produk skincare. Analoginya karena fraud di perusahaan manapun pasti menimbulkan kerugian dan merupakan tindak pidana atau perdata, meskipun ‘tingkat’ kerugian yang dirasakan perusahaan berbeda-beda tergantung seberapa kondisi keuangan perusahaannya.

FONDASI BASIC SKINCARE

Untuk mendirikan perusahaan itu kan pasti memerlukan dokumen perijinan, seperti Akta Pendirian, SK-Kemenkumham, NIB, NPWP, dan dokumen lainnya untuk memperoleh ‘perlindungan’ hukum dan menyatakan apa tujuan dibentuknya usaha; tanpa dokumen ini maka perusahaan tidak diakui keberadaannya oleh negara.

Nah sama halnya dengan dokumen perijinan di atas, jika diaplikasikan dalam proses membangun basic skincare, maka ‘perlindungan’ utama yang mutlak untuk fondasi kesehatan kulit jangka panjang adalah: sunscreen. Semua ini karena sebagian besar masalah kulit yang dalam panjangnya tidak akan kita sukai berasal dari kerusakan akibat sinar matahari berlebih. Apa yang kita ketahui tentang penuaan dini (dalam bentuk flek, hiperpigmentasi, keriput, kerutan halus, kulit kusam, dan inflamasi yang semakin parah) sesungguhnya bukan masalah umur bertambah saja, tetapi lebih ke akumulasi kerusakan dari paparan sinar matahari tanpa perlindungan yang cukup.

KATEGORI BAHAN BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN KULIT

Setelah mengetahui tahapan basic skincare serta konsisten menggunakan sunscreen 365 hari setahun jika terpapar sinar matahari, barulah kita memilih bahan yang bermanfaat untuk kulit dalam produk skincare yang akan kita gunakan, layaknya jika kita pemilik usaha yang menyeleksi karyawan yang 'kompeten' untuk peran pekerjaan (job description) departemen masing-masing agar perusahaan dapat beroperasi dengan lancar. Kategori bahan-bahan yang men-support kesehatan kulit ini adalah:

  1. Antioksidan
  2. Bahan aktif (bio-active ingredients)
  3. Chemical exfoliant
  4. Skin identical (bahan yang me'mimik' struktur skin barrier alami manusia)

Sederhananya kulit memerlukan kombinasi keempat bahan ini dalam konsentrasi yang pas untuk tipe kulit yang bervariasi layaknya kerja kelompok antar karyawan di seluruh departemen agar visi dan misi perusahaan tercapai.

N°1

BAGAIMANA ANTIOKSIDAN MEMBANTU KULIT

Anggap antioksidan ini layaknya bagian security (baik dalam bentuk software maupun pegawai) untuk mengurangi risiko dari pihak-pihak luar yang berpotensi merugikan (misal seperti maling atau pendemo anarkis) dan menjaga keamanan aset karyawan dan perusahaan.

Seperti analogi tersebut, fungsi antioksidan menjaga kesehatan kulit ini dengan melawan dan mengurangi dampak radikal bebas, polusi, efek buruk sinar UV dan exposome factor lainnya yang bisa mempercepat proses penuaan di kulit. Adapun beberapa antioksidan juga merupakan senyawa yang sedari sananya itu sudah ada di kulit manusia (misal vitamin C) namun seiring bertambahnya usia, paparan sinar matahari dan exposome factor jadi semakin menyusut. Selain itu antioksidan juga berperan untuk menghambat oksidasi yang terjadi sebum alami (lipid peroxidation) kulit kita yang dapat mempengaruhi timbulnya acne.

Selain itu beberapa antioksidan juga ada yang punya peran ‘bonus’ untuk mengurangi hiperpigmentasi di kulit (mengembalikan skin tone asli dari kulit kusam) dan bisa menenangkan peradangan di kulit.

Contoh antioksidan yang paling sering dijumpai ini ya vitamin C (ascorbic acid dan turunannya), sodium ascorbyl phosphate, vitamin E, green tea, resveratrol, ferulic acid, allantoin, alpha lipoic acid, centella asiatica, dan lusinan senyawa lainnya.

N°2

BAHAN AKTIF UNTUK ANTI-AGING

Peran berbagai bahan aktif ini layaknya team leader yang ditempatkan pada berbagai departemen di perusahaan yang mengedukasi & melatih para staf (terutama staf yang kinerjanya kurang maksimal & efektif) untuk bekerja lebih produktif dan behave better. Nah saking memotivasinya team leader ini, staf yang sudah teredukasi akan menyalurkan berbagai skill & behavior yang telah dipelajari ke sesama staf lainnya sehingga satu departemen bisa bekerja kelompok secara efektif dan efisien.

Contoh bahan aktif (bio-actives) yang dapat berkomunikasi ke sel kulit agar bekerja lebih baik seperti: retinol atau retinoids yang selama 60 tahun sudah didukung studi yang ekstensif terkait efektifitasnya mengatasi penampakan penuaan dini, mulai dari fine lines, hiperpigmentasi atau skin tone yang tidak merata (di mana sel kulit manusia memang bisa merespon dengan baik karena memiliki receptor—anggap kaya antena—untuk memproses “sinyal” dari retinol sehingga memproduksi sel kulit yang lebih “sehat”. Kemudian sinyal ini disalurkan ke teman-teman sel kulit lainnya).

Contoh lain yang baru beberapa tahun terakhir ‘naik daun’ seperti: niacinamide atau azelaic acid yang dapat berkomunikasi ke sel kulit untuk menormalkan produksi sebum (sebostatic) sehingga penampakan pori-pori yang terkendali (sehingga tekstur kulit terlihat lebih cerah karena merefleksikan cahaya lebih merata); atau peptides agar meningkatkan kemampuan sel kulit untuk menjaga kelembaban lebih baik (bukan hanya menambah hidrasi saja); atau arbutin untuk melawan pembentukan melanin pada hiperpigmentasi di kulit.

N°3

PERAN EXFOLIANT MENYEIMBANGKAN KULIT

Di setiap perusahaan itu hal yang biasa jika menemukan karyawan atau rekan kerja yang menimbulkan masalah daripada memberi nilai tambah jika tetap dipekerjakan, misal: dalam bentuk gaji buta, attitude yang kurang baik, melakukan tindakan yang merugikan perusahaan atau kinerja yang sudah tidak memadai.

Nah analoginya, chemical exfoliant ini layaknya departemen HR (Human Resources / Personalia) yang mengatur agar proses PHK berjalan lancar agar kegiatan operasional tidak terhambat untuk digantikan dengan calon karyawan baru yang lebih mumpuni, efektif dan efisien.

Chemical exfoliant berfungsi meregulasi pergantian sel kulit mati yang tidak teratur—akibat akumulasi inflamasi, efek sinar matahari atau memang bertambahnya usia—menjadi normal kembali dengan cara: membantu melebur gumpalan sel kulit mati yang bercampur dengan produksi sebum berlebih di kulit yang menyumbat pori-pori penyebab komedo atau jerawat. Nah setelah lapisan kulit teratas (stratum corneum) yang banyak sel kulit mati siklus pergantiannya sudah normal, otomatis akan menampakkan lapisan kulit yang lebih sehat dan cerah di bawahnya.

Nah sama halnya dengan analogi di atas, jika pergantian karyawan dilakukan terlalu sering maka tentu dapat mengganggu kegiatan perusahaan karena serah terima jabatan berkali-kali membuat pekerjaan menjadi tidak konsisten atau juga proses pelatihan karyawan baru yang tidak efektif. Oleh karena itu, sama halnya dengan siklus pergantian sel kulit mati ini juga sebaiknya konsisten—namun tidak “berlebihan” (tidak over-exfoliate)—agar tidak mengganggu skin barrier dimana tiap individu memiliki tingkat toleransi yang berbeda. Kulit tidak harus flaking, merah, cekit-cekit, tingling atau terbakar untuk menandakan bahwa exfoliant-nya bekerja.

Contoh paling umum untuk exfoliant ini adalah: AHA (alpha hydroxy acid—glycolic acid, mandelic acid, lactic acid, malic acid) yang water soluble sehingga lebih melembabkan di lapisan kulit yang lebih mendekati permukaan; dan BHA (beta hydroxy acid—salicylic acid) yang karena oil soluble maka bekerja lebih mendalam ke pipa pori-pori untuk melebur (deskuamasi) gumpalan sebum dan sel kulit mati.

N°4

CARA SKIN IDENTICALS MENUTRISI

Dalam perusahaan juga hal yang normal jika ada karyawan yang memang tiba waktunya untuk pensiun atau mengundurkan diri, tak terkecuali karyawan yang prestasinya baik dan berjasa bagi perusahaan sekalipun. Nah di sinilah peran departemen recruitment mencari pengganti untuk mengisi kembali posisi yang penting untuk perusahaan agar tetap beroperasi dengan baik.

Sesuai dengan analogi di atas, peran bahan skin identicals ini mengisi kembali (replenish) komponen penting di skin barrier yang hilang atau terkikis—baik karena proses cleansing, paparan lingkungan, sinar matahari, gesekan, bertambahnya usia atau pemicu inflamasi lainnya—dalam rangka agar skin barrier tidak terganggu. Jaringan skin barrier ini layaknya dinding yang disusun dari batu bata dan semen yang berongga, maka skin identicals ini berfungsi layaknya tambahan semen untuk memperkuat dinding agar tetap intact dan mengurangi rongga-rongga ini untuk tekstur yang tidak mudah “bocor”.

Contoh skin identicals yang paling sering ditemui ini adalah: glycerin, ceramides, hyaluronic acid, lecithin, jojoba oil, squalane, omega 3,6, dan berbagai asam lemak lain yang beberapa juga merangkap kerja untuk mengikat kelembaban (humectant) di kulit.

N°5

MENGENDALIKAN RISIKO IRITASI

Sesuai dengan yang telah dijelaskan di atas, jika kita memposisikan diri sebagai karyawan dalam hal memperoleh bimbingan / pelatihan dari atasan atau saat kita mengundurkan diri atau di-PHK apakah berkenan jika diperlakukan dengan “kasar”?

Sama halnya dengan dua kategori bahan di atas: chemical exfoliant dan bahan bio-actives, jika menimbulkan iritasi atau sensitisasi di kulit maka kita dapat mempertimbangkan untuk memilih produk dengan konsentrasi (%) bahan yang lebih rendah atau memang frekuensi pemakaian yang harus dikurangi.

Lalu jika kita memposisikan diri sebagai pemilik usaha: apakah dalam mencari karyawan dan rekan kerja kita juga berkenan bekerja dengan karyawan yang memiliki karakteristik abusive, mengganggu jalannya kegiatan usaha atau cenderung bertindakan yang merugikan?

Nah sama halnya dengan bahan-bahan yang tidak diperlukan kulit seperti pewangi, essential oil, atau cooling agent yang fokus utamanya ditambahkan di formula skincare untuk meningkatkan “experience” saat dipakai, dengan risiko menimbulkan inflamasi—yang juga berpotensi memperparah masalah kulit yang sudah ada—yang lebih tinggi dibanding manfaatnya untuk kulit: bagaimana akumulasi pilihan yang kita ambil sekarang demi menentukan hasil kesehatan kulit kita di masa datang, baik itu yang pro-aging (mempercepat penuaan dini) atau yang mengurangi dampaknya, hanya waktu yang dapat menjawab.

REFERENCES:

  • Contact Dermatitis, Volume 63, Issue 5, November 2010, Pages 277-283
  • Dermatitis: November-December 2011 - Volume 22 - Issue 6 - p 344-347
  • Regulatory Toxicology and Pharmacology. Volume 84, March 2017, Pages 102-104
  • Journal of Cosmetic Dermatology,  Mar 2013, Vol 12 (Issue 1): Pages 25-35
  • Postepy Dermatol Alergol. 2019 Aug; 36(4): 392–397
  • Photodermatology, Photoimmunology & Photomedicine, November 2019, Vol. 35 Issue 6, Pages 420-428
  • Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, Feb 2019, Vol.12 (Issue 2): E53–E59.
  • Journal of Cosmetic and Laser Therapy, Jul 2009, Volume 8, 2006 - Issue 2, Pages 96-101
  • Toxicology in Vitro, Volume 21, Issue 7, October 2007, Pages 1298-1303
  • Lipids Health Dis., Dec 2010, Pages 141.