Alasan Chemical Exfoliant Menjadi Kurang Efektif


by Glow Necessities
Alasan Chemical Exfoliant Menjadi Kurang Efektif

Sepertinya sudah lagu lama jika tiap kali kita membeli exfoliant dan berharap hanya karena tercantum kata “mengandung AHA atau BHA atau PHA” maka serta-merta menganggap bahwa produknya dapat melakukan eksfoliasi (meregulasi pergantian sel kulit mati) dengan semestinya dan dapat membantu penampakan jerawat.

Namun sayangnya, kenyataannya sekadar “mengandung” bukanlah jaminan bahwa suatu produk dapat bekerja sesuai dengan “janji”-nya. Berikut di bawah ini alasan kenapa produk exfoliant—yang memang pada dasarnya sudah tricky untuk diformulasi—efektifitasnya menjadi terkompromi:

N°1

EXFOLIANT DIKEMAS ULANG ATAU SHARE IN JAR

Selain masalah legalitas atau risiko kontaminasi yang sudah dibahas di sini, semua produk exfoliant yang resmi dijual di Indonesia—atau setidaknya sudah diproduksi di fasilitas yang compliant dengan regulasi kesehatan di negara masing-masing terkait klaim anti-acne—harus sudah lolos uji stabilitas dengan material kemasan yang bersentuhan langsung produknya (kemasan primer).

Karena produk yang dikemas ulang kemungkinan menggunakan material atau sistem kemasan yang berbeda (tidak kedap udara atau cahaya), hal ini dapat mengganggu stabilitas dan pH bahan aktif exfoliantnya menjadi tidak lagi efektif ketika digunakan oleh konsumen akhir.

N°2

pH & KONSENTRASI KURANG MEMADAI

Alpha hydroxy acids (AHA) & salicylic acid (BHA) memiliki kriteria konsentrasi minimum tertentu untuk lebih efektif melakukan eksfoliasi dengan cakupan pH yang spesifik (antara pH 3.00-4.00; AHA minim 5%, BHA minim 1%) sehingga jika terdapat deviasi/tidak presisi pada salah satunya kemungkinan kinerja exfoliant dalam membantu mengatur deskuamasi di permukaan kulit menjadi terkompromi.*

Adapun exfoliant pada sediaan non-bilas cenderung memberi hasil yang lebih efektif karena kontak dengan kulit pada durasi yang lebih lama untuk bekerja optimal dalam deskuamasi.

N°3

MASIH MEMAKAI PRODUK TINGGI IRITAN

Layaknya gali lubang-tutup lubang: pemakaian produk dengan surfactant yang kasar (untuk produk pembersih), tinggi senyawa volatile dari pewangi atau essential oil, drying alcohol atau bahan-bahan iritan lain yang tidak diperlukan oleh kulit secara akumulatif berisiko memicu kulit untuk memproduksi lebih banyak sebum untuk menanggulangi dehidrasi atau inflamasi yang ditimbulkannya, sehingga menghambat proses pemulihan atau malah memperparah breakout, jerawat dan/atau pori-pori tersumbat.

N°4

EKSFOLIASI BERLEBIHAN (OVER-EXFOLIATE)

Karena exfoliant pada dasarnya mempercepat dan meregulasi proses pergantian sel kulit mati di permukaan kulit, memakai exfoliant yang efektif dapat membantu tampilan kulit yang membaik dalam waktu singkat. Hasil dari perubahan yang cepat ini memang terkadang menggoda untuk kita memakai exfoliant lebih sering dengan anggapan: ‘Kalau sedikit saja sudah membaik, semakin sering/banyak maka semakin bagus, kan?’.

Sayangnya dalam perawatan kulit, semakin banyak bukan selalu berarti semakin baik. Jika kita melakukan eksfoliasi terlalu sering, kulit tidak diberi kesempatan untuk memproduksi ulang sel kulit yang lebih ‘fresh’ pada lapisan kulit yang ter-deskuamasi.

Masalah lain dapat timbul jika memakai produk dengan konsentrasi AHA atau BHA yang terlalu tinggi—jika sesuai regulasi di Indonesia: maksimal AHAs pada 10% dan BHA pada 2% untuk exfoliant dalam kosmetik—melebihi yang dapat ditoleransi kulit atau kelalaian guna produk chemical peeling dengan konsentrasi hydroxy acids tinggi yang seharusnya hanya dapat diaplikasikan oleh petugas medis.

Dalam hal frekuensi (seberapa sering) memakai exfoliant dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kulit dapat menoleransi exfoliant sebagai antisipasi untuk mengurangi efek samping sensitisasinya: ini merupakan fenomena yang berbeda pada masing-masing individu dan memang memerlukan beberapa eksperimen untuk menemukan kombinasi yang seimbang sesuai concern kulit yang ingin diatasi.

Cek di sini untuk tips dan do’s & don’ts memakai exfoliant dalam tahapan basic skincare.

N°5

SUN-PROTECTION YANG KURANG KONSISTEN

Walaupun tidak memakai chemical exfoliant, dampak penuaan dini dan kerusakan (photodamage) pada kulit akibat paparan sinar atau pantulan matahari tanpa sun-protection akan tetap terjadi dan terakumulasi secara terselubung dalam jangka panjang, apalagi jika pada kulit yang secara rutin memakai chemical exfoliant—yang dipakai siang hari maupun malam hari.

Karena pergantian sel kulit mati di lapisan teratas kulit (stratum corneum) yang dipercepat dari eksfoliasi, hal ini dapat membuat kulit lebih rentan jika tidak dilakukan upaya sun protection—dengan memakai sunscreen minimal SPF 30 maupun dengan cara berteduh atau tidak berpanas-panasan dalam jangka waktu lama—terhadap UV dari matahari, sehingga dapat menghambat proses pemulihan kulit karena inflamasi yang ditimbulkan.

N°6

WITHDRAWAL DARI PRODUK ABAL-ABAL DAN BAHAN OBAT ILEGAL

We wish skincare could solve everything, but the truth is skincare could only do so much, and chemical exfoliant is no exception.

Dalam hal kita berharap semata-mata dengan eksfoliasi dari produk kosmetik dapat 'menyembuhkan' breakout, flare-up, inflamasi, atau kerusakaan kulit dari penghentian produk yang menyalahgunakan bahan obat atau bahan ilegal—topical steroid withdrawal, dermatitis, cystic acne—di sinilah pentingnya untuk menyesuaikan ekspektasi dalam memakai produk skincare (kosmetik).

Karena efek dari penyalahgunaan bahan obat atau bahan ilegal merupakan suatu kondisi medis lanjutan, langkah utama adalah dengan pengobatan dengan dokter spesialis kulit & kelamin (dermatologist) untuk mempertimbangkan bahan-bahan aktif yang dapat digunakan berdampingan dengan chemical exfoliant dan skincare sehari-hari.

*Kami menyadari terdapat dua studi ini yang sering dikutip yang menunjukkan bahwa BHA untuk efektif tidak harus tergantung dari pH yang spesifik. Akan tetapi, karena pada dua studi tersebut antara merupakan: (1) Studi yang disponsori oleh salah satu brand produsen kosmetik (bukan studi independen), atau (2) lebih menjelaskan perbedaan tingkat sensitisasi yang tidak terlalu signifikan atas BHA pada pH yang tidak acidic, namun bukan bagaimana efektifitas BHA pada pH yang akurat terhadap kondisi jerawat atau pori-pori tersumbat. Maka dari itu kami tetap lebih meyakini atas studi referensi di bawah ini terkait BHA dengan pH yang spesifik (pH 3.00-4.00) agar dapat efektif melakukan deskuamasi gumpalan sel kulit mati dan sebum pada jerawat atau pori-pori tersumbat.

REFERENCES:

  • Journal of American Academy of Dermatology, April 2007, Vol. 56 (Issue 4), Pages 651-653
  • Indian Journal of Dermatology, May-June 2016, Vol. 61 (Issue 3), Pages:265–272
  • International Journal of Pharmaceutics, Volume 269, Issue 2, January 2004, Pages 323-328
  • International Journal of Cosmetic Science, October 2006, Vol. 28 (Issue 5), Pages 359-370
  • Journal of the Society of Cosmetic Chemists, July/August 1997, Vol. 48, Pages 187-197
  • Food and Chemical Toxicology, November 1999, Vol. 37, Issue 11, Pages 1105-1111